Jumat, 06 Maret 2009

conference oh conference....

Akhir-akhir ini fasilitas conference di Yahoo Mesangger semakin akrab dengan saya. Boleh juga sih, hitung-hitung bisa untuk rapat jarak jauh. Cuma...pusink kuadrat deh. Sekian banyak orang yang ngomong (baca: ngetik), dan susah untuk dikendalikan. Ga cuma itu, gampang banget out of context dari agenda bahasan. Tambah sulit lagi, yang conference adalah teman-teman SMA, yang lama ga saling ketemu...(hufff) Alhasil, 3 jam berbicara tanpa juntrungan dan minim hasil...=(




Memang...pertemuan intim tatap muka tak pernah bisa tergantikan esensinya...


Rabu, 18 Februari 2009

T-O-L-O-N-G!

Masih ingat dengan sebuah reality show bertajuk "Tolong" garapan Helmy Yahya? Setelah lama hilang dari pandangan saya- entah saya yang lama tak menonton TV, atau acara itu memang baru disiarkan lagi-, 2 hari yang lalu saya kembali "menikmatinya" dengan format baru. Masih dengan konsep acara yang sama, dimana seorang aktor berperan sebagai orang yang dalam kesulitan dan butuh ditolong, mencoba menggugah rasa kasihan dari orang-orang yang ditemuinya di jalanan.

"Masih adakah orang yang mau berbagi dengan sesama di tengah kondisi sulit seperti sekarang ini?", itu mungkin pertanyaan besar yang menjadi ide dasar di sini. Keraguan bahwa manusia masih memiliki sisi sosial di tengah keegoisan rupanya menarik untuk disuguhkan. Sekali lagi, entah menjadi pembelajaran atau mungkin hanya sebagai hiburan yang membuat realitas itu menjadi "wajar" adanya.

Bagi saya, keberadaan acara ini menciptakan kontradiksi tersendiri dalam diri saya. Di satu sisi saya setuju. Dengan harapan, semoga setiap individu dapat tergugah dan mungkin berkaca masing-masing. Apakah saya pantas mencemooh mereka yang menolak menolong si aktor dengan alasan "ga' punya uang.."? Tapi di lain hal, hadiah uang yang diberikan di akhir acara agak mengganggu bagi saya. Jika kemudian setiap menolong, orang mengharapkan bahwa ada imbalan di akhir pertolongan, kemana rasa ikhlas itu pergi? Kekhawatiran saya terbukti di salah satu episode terdahulu, ketika ada salah satu warga di jalanan yang memergoki kamera tersembunyi, sontak dia langsung menghampiri si aktor dan menyodorkan uang "berniat" membantu, semoga dapat uang hadiah.

Kekhawatiran yang kedua, ketika menonton acara ini berulang-ulang bukan membuat orang semakin tergugah dan perduli, melainkan malah menganggap ignorance semacam ini sebagai hal yang wajar, "toh, banyak yang seperti itu...". Kemudian, jika orang menganggap hal ini adalah bagian dari konstruksi sosial yang ada di masyarakat dan biarkan berjalan seperti adanya, apalah arti kata TOLONG diantara kebisingan jalanan?

Rabu, 28 Januari 2009

Konflik pagi hari ala kucing...

Pagi ini, keheningan pagi dipecah oleh suara seekor kucing yang menggeram kencang di samping rumah. Usut punya usut ternyata seekor kucing belang coklat sedang siap tempur dengan kucing hitam di atas atap tetangga. Keduanya nampak siap tempur, sama-sama garang, sama-sama melotot...sampai ada burung lewat aja ga' ada yang berkutik.

Pemandangan ini tampaknya menjadi tontonan hiburan untuk orang-orang. Ibu-ibu yang lagi "nge-date" sama abang sayur aja sampai menghentikan aktifitas belanja demi menyaksikan pertempuran dua kucing itu. Tentunya dihiasi dengan kasak-kusuk khas ibu rumah tangga, "itu kucingnya serem deh..", "dasar kucing, biar ga ada ikan tetep aja berantem...", yang lebih nyeleneh celetukan semacam ini, "itu nanti siapa yang kalah hayo??". (Ibu-ibu jaman sekarang, infotaiment mania!) dan tentunya hahahihi plus cekikikan versi ibu-ibu.

Saya pastinya tidak ketinggalan menonton pemandangan itu dari balkon kamar, cuma saya lebih tertarik dengan si penonton dari pada 2 kucing tersebut. Lucunya, orang-orang yang ingin tahu ada apa dengan kucing tersebut makin lama, semakin berkerumun. Sampai menutupi jalanan komplek yang memang sudah sempit. Yang lebih aneh, mereka bak tersihir dengan aksi saling geram tersebut. Tidak ada yang beranjak dari kerumunan. Anak sekolah dengan seragam, ibu-ibu belanja, bapak-bapak naik motor, abang sayur dkk, semua sibuk melihat ke "arena pertandingan" (cuma kurang calo aja kalo udah gini...hehehhe...).

Aksi saling geram tadi ternyata berlangsung cukup lama. Sampai akhirnya si kucing hitam lari ke atap sebelah sambil tetap menggeram. Kemudian terjadilah aksi ala James Bond, si kucing kejar-kejaran di atap. Loncat dari rumah satu ke rumah yang lain. Herannya kok para penontonnya masih terpesona. Kepala mereka bergerak mengikuti arah si kucing lari. "Yah, kok yang hitam kalaaahhh...." ibu tetangga depan rumah nampak kecewa (mungkin karena jagoannya malah lari...). Dan ketika aksi itu lewat, baru mereka menyingkir satu-satu dari jalanan, kembali ke aktifitas masing-masing.

Saya reflek geleng-geleng kepala, tidak habis pikir kok ya kucing berantem aja jadi tontonan yang demikian seru. Bukannya bantu melerai...(gimana juga ngelerainya...). Apa memang sifat dasar manusia yang suka dengan konflik, terlebih melihat konflik di tempat umum. Toh, tidak jarang saya terjebak kemacetan hanya karena orang-orang menonton 2 pihak yang bertengkar di pinggir jalan karena kendaraannya saling menyenggol. Atau orang-orang di food-court saling berbisik karena sepasang kekasih bertengkar, apalagi sampai ada adegan disiram minuman. Dan mungkin karena semua ini reality show-yang entah memang real atau rekayasa mempertontonkan konflik-konflik pribadi-laku dijual oleh stasiun TV.

Yang patut dipertanyakan, kemudian apa yang kita dapat dari menonton sebuah konflik? Apakah kita menjadi belajar, bagaimana kita menangani suatu konflik? Atau justru kita belajar menimbulkan konflik?

Selasa, 27 Januari 2009

Be Positive...

Rasanya postingan ini akan dimulai dengan suatu penyesalan yang dalam karena lama meninggalkan blog ini. Terhitung dari Agustus 2008, saya mulai lupa ingatan sementara bahwa saya punya blog. Dan kemudian beberapa teman yang biasa berkunjung, mulai "menceramahi" saya atas kelalaian ini. (Hohoho...thanx Diet, Unga, Kebo-Jepang...xixiix)

Kemudian saya akan beralasan....

4 bulan ini hidup rasanya seperti dikejar 3 ekor guk-guk di suatu gang sempit (saya tahu pasti rasanya...). Di saat seperti itu, setiap detik menjadi begitu penting. Tiap tarikan nafas menjadi begitu berarti. Bagaimana tidak, energi ini harus disimpan sedemikian rupa supaya saya bisa sampai ujung gang dengan selamat. Karena ibarat adegan kejar-kejaran hollywood, di gang yang gelap dimana cahaya hanya menyongsong dari ujungnya.

Artinya...

4 bulan kemarin saya hampir tak bisa berhibernasi di kamar menikmati hidup. Tugas kampus, dan kawan-kawan berkomplot mendatangi hari-hari yang memang sudah penat. Hampir saja saya mulai merefleksikan, untuk apa ada gelar S.Sos di belakang nama saya. Nampaknya Theresia Hanni Christania saja sudah cukup baik..(Terutama ditulis dalam undangan pernikahan...hehehhe). Untungnya, orangtua masih bermuka garang di pintu kamar, mengingatkan kodrat sebagai mahasiswa 4 tahun yang belum digenapi. Kemudian hari-hari itu dijalani dengan datar dan menyebalkan.

Kemudian efek yang paling terasa adalah aura saya menjadi sangat negatif (skali lagi...No Aura Kasih!), segala pikiran serta pertimbangan menjadi pendek dan negatif, emosi juga tidak terkontrol. Segala hal yang dikerjakan menjadi tidak maksimal. Hubungan dengan pihak lain pun (terutama pacar saya) menjadi merenggang. Saya gampang marah, gampang ngambek, gampang kecewa...(asal ga' gampangan aja ya bebh...huhuhu). Pokoknya sekeliling saya menjadi tidak supportif dan kondusif untuk mendukung kegiatan sehari-hari.

Satu hal yang saya pelajari adalah berusaha memutar yang negatif tadi menjadi positif. Memang tidak mudah. Ketika seseorang berada di "jurang kegelapan" (efek kebanyakan nonton film superhero...) semuanya menjadi begitu gelap, tapi saran saya bawalah selalu korek api. Ketika kita bisa menyalakan setitik saja cahaya, lalu tersenyum dan meraba, seperti apa jurang itu sebenarnya (siapa tau ada tambang emas di dalamnya...) maka kita bisa menentukan jalan mana yang mau kita ambil. Tidak hanya mengikuti kemana kegelapan membawa.

Menjadi positif adalah hal yang sering kita dengar setiap hari. Suatu filosofi yang sudah mondar-mandir lewat buku The Secret dkk. Hanya ternyata menjalaninya tak semudah saat mengangguk membaca kalimat "be positive". Karena saya sendiri sering lupa membawa "korek api saya" di tengah kebisingan dunia. Tapi saya percaya dengan menjadi positif, maka sekitar saya pun menjadi kondusif dan mendukung apa yang saya kerjakan. Bagaimana prosesnya? Saya tidak bisa menjelaskan pasti, teorinya pun saya tidak mengerti. Yang saya pastikan adalah apa yang saya rasakan.

Felling is believing....hohoho...^^


SMANGAAAAAADD!

Rabu, 20 Agustus 2008

being extraordinary, do more!


Some people said, “It’s better to do more”. In my own opinion “do more” is more than just a statement about giving further of others’ expectations. It means being extraordinary. My mate always tells me how nice to be more than others do. Of course, I know he’s not arrogant one. He doesn’t like to showing off. My mate is a perfectionist one. He’s a simple man with so many dreams. That’s why he always tries to giving as best as he can do.

He teaches me about totalities. As I know, he spent half and a year in finishing his thesis while he was working as a part timer. It was long enough for undergraduate thesis. Somebody thought that he was not serious in doing that. But, I convinced them that he wasn’t. He focused all the things for his research. He took a thesis that using library research about two major theories in management, and then he tried to analyzing them in order to conduct a new theory about Customer Knowledge Management. It was not as simple as I thought before. Although just using library research as the method, this kind of thesis needs a deep understanding and analyzing. “Unfortunately”, he’s too stubborn as he believed that he could make it come true. Thanks God after through upside and down, finally he did it! And he just told me, “I satisfy for giving my best.”

Now, he always reminds me about “do more”. I have to try my best. Not only just as fulfillment of something. I loved to be ordinary one for my extraordinary life. But at least I consider that to reach the extraordinary life, I need more and more in my life. I can not get “more things” if I wouldn’t “do more”.

Until now, I realize that it’s not easy to do it. More over I am a kind of lazy hazy girl. I hate to be like this, but it needs time to be better and better. The most important is willingness. “If there is a will, there will be a way…”. So I’m on my way, while treating my will…

Kamis, 07 Agustus 2008

Sepertinya ini surat cinta....

Disinilah aku mulai merangkaikan kata.. berusaha mengungkap jiwa didepan deretan huruf tak bertata..

Begitu lama aku mencari makna dari perjalanan kita, setiap peristiwa yang menarik keluar asa dan rasa. Senyum, tangis, tawa…semua pernah hinggap padaku. Semua selalu berganti mengisi hariku…hari kita.

Andai kamu tahu, pipiku menyemukan guratan merah jambu. Malukah aku? Tidak! Aku bahagia sayang... Aku menghentikan detikan jam pasir dihadapanku dan mulai menarik waktu mundur dari awal kita bertemu.

Entah sejak kapan aku memanggilmu “Sayang..”…aku tak pernah bisa mengingat setiap detil kehidupan yang telah aku lalui. Tapi aku selalu mengenal setiap rasa yang pernah memutar hidupku. Percayakah kamu salah satunya adalah kehadiranmu? Butuh tak sedikit waktu untuk menyadari itu semua. Kamu tahu..aku tak pernah merencanakan apa yang kita jalani sekarang. Bahkan ketika awal kita bersingungan… nihil terpikir olehku untuk berdampingan merangkai cerita denganmu.

Bukan sekali ini aku mengenal cinta. Paling tidak aku mengerti definisi personalku mengenai cinta. Hal ini sangat universal kan sayang? Sepanjang proses kita, aku mengenal cinta darimu. Tidak butuh hitungan tahunan, tapi aku mengagumi keunikan cinta versi kamu. Cinta bukan hanya kata. Cinta lebih dari pemberian semata. Cinta tak terjabarkan…mengagumkan bukan sayang?

Aku berusaha membuka tiap lembar memori ketika kamu nyata dihadapanku. Tak mudah mencarinya…hitungannya hanya belasan dan ini terselip diantara ratusan hari yang kita hadirkan. Aku memejamkan mata, seolah membuka layar putih dibalik kelopak mata. Proyeksi itu kembali! Saat kamu menggenggamku.. memelukku… menciumku.. Bahkan aku melihat jelas tetesan kecewa diantara bahagia yang kita rasa. Adilkah sayang…saat waktu kita sangat terbatas masih ada diam diantara ramainya sorakan hati? Detik ini aku menyesali, ketika ada ruang bertemu terkadang sejumput ingatan masa laluku mengganggu.


Aku sadar..di perhentian hidupku kali ini aku mengenalmu dan bersamamu. Sosok baru di hidupku. Baru itu menyenangkan sayang.. kamu bukan kuandaikan seperti sebuah boneka baru yang selalu dimainkan sepanjang waktu. Kamu adalah bayangan baru ketika aku memasuki babak baru yang kupilih. Kamu selalu dibelakangku.. mengkuti kemana pun aku melangkah. Walau kala gelap kamu tak terlihat, aku tahu kamu hanya menunggu waktu tuk’ kembali disisi. Sadarkah kamu…aku tak pernah ingin kehilangan bayanganku..sosok untuk mengetahui bahwa aku tak pernah sendiri.

Sungguh, aku tak bisa menutupi... I just wish I could close to you.. Betapa belasan hari yang kita lalui tak cukup menimbang rasa rindu yang ada. Betapa mengingat jarak kerap menyiksaku tak terhenti sampai detik kamu ada disini. Aku bertahan.. selalu sama seperti ketika kamu mengucapkan kata itu tanpa ada hadir. Aku percaya, kelak akan ada perhentian kita untuk tersenyum lega tanpa jarak. Apapun bentuknya.. ya ‘kan sayang? Karena waktu selalu memberi dan mengambil sesuatu dari hidup.

Aku mencintai kebebasan yang kamu beri. Aku mensyukuri kepercayaan yang tulus darimu. Aku tersenyum untuk cinta tak bersyarat ini. Aku disini..melihatmu dengan ambisimu, persis sama ketika kamu disana menatapku menggandeng asa mimpiku. Dan apa yang kemudian kita lakukan? Proses ini membawa kerelaan besar sayang. Kamu mengajariku betapa ambisi harus digapai. Bagaimana kamu tersenyum serta mengulurkan tanganmu untuk membantuku naik. How wonderful you are! Sekali lagi aku bersyukur pada-Nya.

Aku tak ingin semua ini hanya untaian singkat cerita. Kamu belum lelah ada disampingku kan’ sayang? Seperti yang selalu kukatakan… aku mencintai proses kita. Aku ingin selalu ada semak yang kita bersihkan untuk jalan ini. Kamu dan semua yang ada padamu adalah hal tak terucap untukku. Dan sekarang, aku kembali menjalani detik yang sempat terhenti. Waktu yang pernah kita jalani.. aku tahu itu akan berulang lagi dan lagi. Tak perduli dimanapun kamu berada.. akan ada saatnya untuk kita..

Selasa, 05 Agustus 2008

Long Distance is (not) Killing me!



Beberapa waktu lalu seorang teman menghampiri saya di kampus dengan semangat yang terus terang membuat firasat buruk hinggap di pikiran. Dengan ringan Ia berkata," Hun, dengerin deh lagunya! Loe pasti suka banget!!" sambil menyodorkan iPodnya pada saya. Di titik ini saya dengan tatapan setengah percaya mencoba mendengarkan dengan seksama sebuah lagu yang tidak jelas alirannya apa. Seperti campuran antara reggee, hip hop plus dangdut. Sampai di refrennya terdengar lirik..

"Long distance is killing me...Long distance is killing me..."

Dan disinilah terbukti segala gerak gerik mencurigakan tadi. Saya melepas headset sambil misuh-misuh dan Ia tertawa puas sambil berkata.."Kangeeeeeennn bu??!!!!" (Ya iyalah..masa Iya dooonnkk...*hikz)

Dan, sekarang rasa tidak suka saya kepada seorang Aura Kasih bertambah. Bukan apa-apa, awalnya saya hanya merasa lagunya yang "Mari Berdansa (atau bercinta?!!)" sulit dicerna maksudnya. Yang saya tahu lagu itu sukses membuat sensasi bagi si Penyanyi dengan sense yang kurang saya sukai. Tapi sekarang Aura Kasih malah lantang menyuarakan "Long Distance is killing me"! How come?!! Ya, walaupun bukan salah dia juga..cuma kok menohok ya..huhuhu

Sebagai salah seorang pelakon hubungan jarak jauh alias Long distance aka LD, saya jelas tidak sutuju dengan judul lagu tersebut. Toh buktinya saya masih hidup dan bernafas dengan sempurna sampai detik ini..hehehe... Dan sebagai argumen balasan dari lagu tersebut, berikut adalah beberapa hal yang sering dipertanyakan oleh teman-teman saya mengenai LD..

1. Apa sulit menjalani hubungan jarak jauh?
Sebenarnya kalau menurut saya sendiri susah-susah gampang, tergantung bagaimana kita menyikapi hubungan tersebut. Yang perlu dipertimbangkan ketika ingin menjalani hubungan semacam ini adalah nilai pengorbanan yang harus diberikan. Bukan berarti kita hitung-hitungan soal take and give, tapi memang LD membutuhkan treatment lebih dibandingan hubungan satu kota. Yang jelas, mostly LD lebih cocok untuk mereka yang mengutamakan "kualitas hubungan" dibanding "kuantitas pertemuan".

2. Memang treatmentnya harus seperti apa?
Kalau yang satu ini sebenarnya tergantung pada karakter dari individu yang menjalani. Bersyukurlah sekarang ini perang tarif untuk GSM dan CDMA sudah merajalela dimana-mana. Jadi paling tidak sangat membantu bagi mereka yang LD antar kota (bukan antar negara tentunya...). Terlebih sekarang ini internet sudah masuk desa, jadi ya YMan atau email-email'an juga bisa kok.
Walaupun infrastruktur komunikasi lumayan mendukung, LD tetap cenderung lebih monoton dan membosankan. Kalau pun tiap hari berkomunikasi pasti ada jenuhnya. Apalagi pertemuan secara fisik sulit dilakukan. Nah, harus pintar-pintar menyibukan diri plus mencari hal-hal baru yang bisa dilakukan bersama pasangan walaupun ada jarak membentang (hallaaaa...). Misalnya : membuat blog berdua, menulis jurnal berdua lewat email, dsb.

3. Apa yang paling penting di LD?
PERCAYA! PERCAYA!PERCAYA! Paling tidak dari pengalaman pribadi saya, LD yang dibangun dengan dasar saling percaya, tanpa praduga dan dengan niatan saling mendukung kehidupan pribadi masing-masing akan menjadi hubungan yang menyenangkan. Saya sendiri terkadang memiliki kebanggaan pribadi bahwa saya dan pacar saya bisa membangun hubungan yang saling mendukung sampai detik ini. Ada rasa bahagia tersendiri saat menyadari betapa sesuatu yang awalnya kami anggap sulit ternyata bisa dijalani dengan cukup baik selama 8 bulan ini.
Tentunya bukan hanya kepercayaan, dalam LD juga dibutuhkan pengertian lebih, positive thinking, dan tentunya kesabaran ekstra (apalagi kalau lagi kangen berat...hikz...)

4. Apa enaknya LD?
Enaknya bisa selingkuh! hehehhe...ga dink.. Enaknya hubungan macam ini adalah kita bisa lebih bebas bergerak. Tidak harus menemani pacar setiap waktu apalagi sampai setiap hari. Kita bisa lebih fleksibel mengatur waktu untuk kesibukan kita karena toh pacar kita juga punya kesibukan sendiri disana. Kita bisa bebas berkembang tanpa embel-embel posessif (karena biasanya orang posesif enggan menjalani LD...). Tentunya juga menjadi lebih mandiri dan kuat karena mau ngadu pun jauh...hehehe..

5. LD kan rentan dengan perselingkuhan....
Hemm..kecenderungannya memang seperti itu. Tapi percaya deh, hal ini sebenarnya balik lagi ke pribadi masing-masing. Tidak perlu LD untuk selingkuh kalau memang dasarnya playboy. Makanya saya sangat menyarankan kenali benar-benar orang tersebut sebelum anda memutuskan untuk berhubungan jarak jauh dengan dia. Jangan sampai anda kecewa akhirnya karena pasti rasanya sangat sakit apalagi mengingat pengorbanan yang telah diberikan. Kalau kelamaan nanti diambil orang?!! Percaya aja, kalau jodoh ga' kemana. Saya sendiri menjalani masa PDKT 8 bulan sebelum akhirnya kami memutuskan untuk berproses bersama.^^


Intinya, saya hanya ingin memberi gambaran bahwa LD sbenarnya bukan suatu hubungan yang harus dihindari. Memang butuh effort lebih, tapi sensasinya juga lebih kok..^^ Apalagi kalau sekian bulan ga' ketemu, nah sekalinya ada kesempatan ketemu pasti bahagia banget..


So..I proudly shout that : LONG DISTANCE IS NOT KILLING ME!

Wanna try??! ^^